Cerita ini hanyalah fiktif semata. jika ada kesamaan nama, tokoh, atau apaupun yang menyangkut kehidupan Anda, sebelumnya penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Kisah ini menceritakan kehidupan Anwar. Anwar terlahir dari keluarga yang sebenarnya cukup bahagia dan diberkati oleh Tuhan. Namun ketika dia sudah mulai dewasa, dia mulai mengetahui jika kebahagiaan yang dia rasakan hanyalah kebahagiaan semu saja. Nyatanya, tanpa sepengetahuan dia, orang tua mereka seringkali bertengkar dan hampir beberapa kali hampir cerai. Namun mereka selalu saja bersikap manis kepada anak-anaknya seolah tak ada apa-apa yang terjadi diantara mereka.
Awalnya, Anwar adalah seorang yang takut akan Tuhan. Hidupnya dilakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Bahkan dia sangat aktif dalam kegiatan kerohanian.Dia sangat aktif di kegiatan gereja, dia termasuk dalam kepengurusan pemuda gereja di kotanya. Tidak hanya sampai disitu, dia juga merupakan Ketua Rohkris di SMAnya.
Dia jatuh, iya dia jatuh. Bukan main-main dia jatuh, bahkan dia sudah terlampau jauh jatuh dalam dosa. Hidupnya berantakan. Studinya kacau, ia jarang masuk sekolah. Iya, dia jauh ke dalam dosa dan menikmati keberdosaannya. Dia mulai mabuk-mabukan, pulang malam, dugem, pergaulan bebas, dan bahkan dia menjadi seorang pengkonsumsi narkoba. Hidupnya semakin jauh dan jauh dari Tuhan.
Anwar punya sahabat namanya Rudi. Mereka sudah berkawan karib sejak mereka kecil. Maklum, rumah mereka berdekatan. Banyak sekali kegilaan yang mereka lakukan semasa mereka masih dekat. Namun, keadaan Anwar yang seperti ini membuatnya menjauhi Rudi. Anwar sudah merasa tidak membutuhkan Rudi, dia hanya perlu bersenang-senang.
Rudi adalah orang yang biasa-biasa saja. Dia tidak se-holy Anwar (dulu). Ke gereja dia berangkat, sate dia lakukan walaupun bolong-bolong.Dia juga orang yang bisa menempatkan diri, pandai bergaul, dan enak diajak bicara.
Rudi tidaklah seperti Anwar yang terlahir dari keluarga kaya. Orang tuanya hanyalah keluarga yang pas-pasan, Pas nggak ada duit ya ngutang, pas nggak ada makan ya puasa. Dia mempunyai cita-cita ntuk mengubah peruntungan keluarganya dengan belajar dengan sungguh-sungguh. Tiap hari dia bangun pagi belajar bentar ya walaupun ketiduran lagi tapi ada lah usahanya dikit, eh iya dikit. Dia juga rajin begadang, dan apa yang dia lakukan? Belajar bung. Belajar untuk pura-pura rajin belajar agar dikira rajin belajar padahal tidak belajar.
Iya, semua itu dia lakukan. Sedikit demi sedikit diapun mulai serius belajar. Nilai-nilainya di sekolah pun mengalami kemajuan. Yang semula peringkat 32 (bontot) di kelas 1, sekarang naik jadi peringkat 28. Lumayan kan walaupun sebenernya naik gara-gara 2 temennya tinggal kelas dan 2 yang lain pindah keluar kota.
Back to topic
Suatu malam Anwar pulang dari diskotik dalam keadaan mabuk. Dengan sengaja -berarti sadar- eh, dia kan mabuk, dia lewat depan rumah Rudi. Dia melihat lampu kamar Rudi masih nyala, dia putuskan untuk masuk ke kamar Rudi lewat jendela. Dan dia langsung tepar di kasur dengan Rudi yang sudah terlelap ternyata.
Keesokan harinya, bangunlah Rudi. Ketika dia membuka mata, dia langsung teriak, "Anjirrr siapa lu? Bangun lu! Ngapain lu di kasur gue?" Dengan tendangan ala ninja dia tendang dia. Tiba-tiba ada suara muncul dari kolong tempat tidur Rudi. "Ngapain sih lu pagi-pagi udah kungfu segala? Gue di bawah. Gue gak tahan liat kau tidur semalam, udah macem orang gila. makanya gue gambarin guling lu", kata Anwar. "Siapa lu? Maling ya?" sahut Rudi. "Gue Anwar, Bego!!"
Flashback
"Ma, aku nginep tempat Anwar ya. Daa Ma", teriak Rudi kecil. Sambil lari bawa baju dalam balutan sarung.
"Bun, aku nginep tempat Rudi ya. *cium pipi Bunda* " "Iya kakak"
Hari yang sama ketika mereka merencanakan mau menginap. Dan ketika mereka sampai rumah yang mau mereka tuju, mereka tidak mendapati orang yang dicari.
Saat Anwar putus asa, duduklah Anwar di kebun milik Sinta, kembang desa seusia mereka. Anwar duduk dan berharap bisa melihat kecantikan wajah Sinta. Di saat yang sama, datanglah Rudi yang hendak mencuri apel di kebun Sinta. Dia masukan apel-apel tersebut ke dalam kantong plastik yang mereka bawa. Ketika Rudi sedang asyik memetik buah apel, terdengarlah suara langkah kaki yang sedang mendekat dan tiba-tiba memegang bahunya.
Rudi kecil tidak berani memalingkan mukanya. Dia hanya tertunduk diam dan lesu, tak bergerak sedikitpun bergaya seperti orang-orangan sawah. Tiba-tiba terdengarlah suara isak tangis dan mulut yang berkata, "Maaf pak, saya tidak akan mencuri buah apel bapak lagi", kata Rudi sambil menghisap kembali ingusnya yang keluar karena tangisannya. Ini juga sebenernya yang membuat anak kecil tidak pernah komplain tentang masakan mama yang kurang asin, ya, karena mereka sudah punya garam mereka sendiri.Oke, back to topic.
Sesaat setelah kata-kata tersebut terlontar dari mulut Rudi, terdengarlah suara tawa cekikikan yang semakin lama semakin keras. ketika Rudi balik badan, terlihatlah Anwar yang surat tergeletak, meringkuk, yang nampak memegang perut setelah perutnya terkocok oleh ulah si Rudi. Dengan nada malu Rudi menghampiri Anwar dan ikut tertawa bersama dengannya.
Malam itu adalah malam mereka. Dengan penampilan ala maling, mereka menghabiskan malam disitu dan dihabiskan dengan bercanda bersama. Mereka putuskan untuk menginap disitu dengan membuat tenda dari ranting-ranting pohon. Cukup kreatif dan pemberani untuk anak seumur 8 tahun untuk berkemah dengan berdua saja. Ya walaupun berkemah di halaman rumah orang.
Hari sudah larut malam, mereka memutuskan untuk tidur waktu itu juga. Sebelum tidur mereka berdoa. "Tuhan, aku mau tidur", kata Anwar. "Aku juga Ya Tuhan" sahut Rudi. Dengan saling bertatapan mereka serentak bilang "Amin".
Sebelum mereka tidur, mereka membuat suatu perjanjian. Mau tau? Tunggu kelanjutannya ya :D
Kisah ini menceritakan kehidupan Anwar. Anwar terlahir dari keluarga yang sebenarnya cukup bahagia dan diberkati oleh Tuhan. Namun ketika dia sudah mulai dewasa, dia mulai mengetahui jika kebahagiaan yang dia rasakan hanyalah kebahagiaan semu saja. Nyatanya, tanpa sepengetahuan dia, orang tua mereka seringkali bertengkar dan hampir beberapa kali hampir cerai. Namun mereka selalu saja bersikap manis kepada anak-anaknya seolah tak ada apa-apa yang terjadi diantara mereka.
Awalnya, Anwar adalah seorang yang takut akan Tuhan. Hidupnya dilakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. Bahkan dia sangat aktif dalam kegiatan kerohanian.Dia sangat aktif di kegiatan gereja, dia termasuk dalam kepengurusan pemuda gereja di kotanya. Tidak hanya sampai disitu, dia juga merupakan Ketua Rohkris di SMAnya.
Dia jatuh, iya dia jatuh. Bukan main-main dia jatuh, bahkan dia sudah terlampau jauh jatuh dalam dosa. Hidupnya berantakan. Studinya kacau, ia jarang masuk sekolah. Iya, dia jauh ke dalam dosa dan menikmati keberdosaannya. Dia mulai mabuk-mabukan, pulang malam, dugem, pergaulan bebas, dan bahkan dia menjadi seorang pengkonsumsi narkoba. Hidupnya semakin jauh dan jauh dari Tuhan.
Anwar punya sahabat namanya Rudi. Mereka sudah berkawan karib sejak mereka kecil. Maklum, rumah mereka berdekatan. Banyak sekali kegilaan yang mereka lakukan semasa mereka masih dekat. Namun, keadaan Anwar yang seperti ini membuatnya menjauhi Rudi. Anwar sudah merasa tidak membutuhkan Rudi, dia hanya perlu bersenang-senang.
Rudi adalah orang yang biasa-biasa saja. Dia tidak se-holy Anwar (dulu). Ke gereja dia berangkat, sate dia lakukan walaupun bolong-bolong.Dia juga orang yang bisa menempatkan diri, pandai bergaul, dan enak diajak bicara.
Rudi tidaklah seperti Anwar yang terlahir dari keluarga kaya. Orang tuanya hanyalah keluarga yang pas-pasan, Pas nggak ada duit ya ngutang, pas nggak ada makan ya puasa. Dia mempunyai cita-cita ntuk mengubah peruntungan keluarganya dengan belajar dengan sungguh-sungguh. Tiap hari dia bangun pagi belajar bentar ya walaupun ketiduran lagi tapi ada lah usahanya dikit, eh iya dikit. Dia juga rajin begadang, dan apa yang dia lakukan? Belajar bung. Belajar untuk pura-pura rajin belajar agar dikira rajin belajar padahal tidak belajar.
Iya, semua itu dia lakukan. Sedikit demi sedikit diapun mulai serius belajar. Nilai-nilainya di sekolah pun mengalami kemajuan. Yang semula peringkat 32 (bontot) di kelas 1, sekarang naik jadi peringkat 28. Lumayan kan walaupun sebenernya naik gara-gara 2 temennya tinggal kelas dan 2 yang lain pindah keluar kota.
Back to topic
Suatu malam Anwar pulang dari diskotik dalam keadaan mabuk. Dengan sengaja -berarti sadar- eh, dia kan mabuk, dia lewat depan rumah Rudi. Dia melihat lampu kamar Rudi masih nyala, dia putuskan untuk masuk ke kamar Rudi lewat jendela. Dan dia langsung tepar di kasur dengan Rudi yang sudah terlelap ternyata.
Keesokan harinya, bangunlah Rudi. Ketika dia membuka mata, dia langsung teriak, "Anjirrr siapa lu? Bangun lu! Ngapain lu di kasur gue?" Dengan tendangan ala ninja dia tendang dia. Tiba-tiba ada suara muncul dari kolong tempat tidur Rudi. "Ngapain sih lu pagi-pagi udah kungfu segala? Gue di bawah. Gue gak tahan liat kau tidur semalam, udah macem orang gila. makanya gue gambarin guling lu", kata Anwar. "Siapa lu? Maling ya?" sahut Rudi. "Gue Anwar, Bego!!"
Flashback
"Ma, aku nginep tempat Anwar ya. Daa Ma", teriak Rudi kecil. Sambil lari bawa baju dalam balutan sarung.
"Bun, aku nginep tempat Rudi ya. *cium pipi Bunda* " "Iya kakak"
Hari yang sama ketika mereka merencanakan mau menginap. Dan ketika mereka sampai rumah yang mau mereka tuju, mereka tidak mendapati orang yang dicari.
Saat Anwar putus asa, duduklah Anwar di kebun milik Sinta, kembang desa seusia mereka. Anwar duduk dan berharap bisa melihat kecantikan wajah Sinta. Di saat yang sama, datanglah Rudi yang hendak mencuri apel di kebun Sinta. Dia masukan apel-apel tersebut ke dalam kantong plastik yang mereka bawa. Ketika Rudi sedang asyik memetik buah apel, terdengarlah suara langkah kaki yang sedang mendekat dan tiba-tiba memegang bahunya.
Rudi kecil tidak berani memalingkan mukanya. Dia hanya tertunduk diam dan lesu, tak bergerak sedikitpun bergaya seperti orang-orangan sawah. Tiba-tiba terdengarlah suara isak tangis dan mulut yang berkata, "Maaf pak, saya tidak akan mencuri buah apel bapak lagi", kata Rudi sambil menghisap kembali ingusnya yang keluar karena tangisannya. Ini juga sebenernya yang membuat anak kecil tidak pernah komplain tentang masakan mama yang kurang asin, ya, karena mereka sudah punya garam mereka sendiri.Oke, back to topic.
Sesaat setelah kata-kata tersebut terlontar dari mulut Rudi, terdengarlah suara tawa cekikikan yang semakin lama semakin keras. ketika Rudi balik badan, terlihatlah Anwar yang surat tergeletak, meringkuk, yang nampak memegang perut setelah perutnya terkocok oleh ulah si Rudi. Dengan nada malu Rudi menghampiri Anwar dan ikut tertawa bersama dengannya.
Malam itu adalah malam mereka. Dengan penampilan ala maling, mereka menghabiskan malam disitu dan dihabiskan dengan bercanda bersama. Mereka putuskan untuk menginap disitu dengan membuat tenda dari ranting-ranting pohon. Cukup kreatif dan pemberani untuk anak seumur 8 tahun untuk berkemah dengan berdua saja. Ya walaupun berkemah di halaman rumah orang.
Hari sudah larut malam, mereka memutuskan untuk tidur waktu itu juga. Sebelum tidur mereka berdoa. "Tuhan, aku mau tidur", kata Anwar. "Aku juga Ya Tuhan" sahut Rudi. Dengan saling bertatapan mereka serentak bilang "Amin".
Sebelum mereka tidur, mereka membuat suatu perjanjian. Mau tau? Tunggu kelanjutannya ya :D
